Rannndoms®

Blog dari HP Sebelum Zaman Android

Saya masih ingat masa-masa ketika memiliki blog bukan hal yang bisa dilakukan semua orang. Bukan karena tidak ada platformnya, tapi karena alat untuk mengelolanya masih sangat terbatas. Laptop bukan barang yang semua pelajar punya. Komputer pun demikian. Yang ada di tangan kami waktu itu hanya ponsel dengan tombol-tombol kecil dan layar yang tidak lebih besar dari telapak tangan.

Di situlah saya pertama kali mengenal Mywapblog.

Sebuah platform blogging yang lahir dari keprihatinan seorang pemuda India bernama Arvind Gupta. Pada tahun 2008, ketika usianya baru 19 tahun, ia melihat ada masalah mendasar di dunia blog seluler. Blogspot dan WordPress memang sudah ada, tetapi keduanya terasa berat untuk perangkat-perangkat yang saat itu berkembang. HP dengan sistem operasi Java dan Symbian tidak bisa membuka dashboard yang penuh grafik tanpa tersendat-sendat. Menulis di sana bukan pengalaman yang menyenangkan, melainkan sebuah perjuangan.

Dari situlah Mywapblog lahir. Situs ini diluncurkan pertama kali pada 31 Agustus 2008 dan versi publiknya resmi mendaftarkan domain pada 10 September 2008. Nama Mywapblog sendiri merujuk pada kata WAP, yang berarti situs seluler, dan blog, yang berarti halaman weblog. Singkatnya, ini adalah blog yang memang dirancang dari awal untuk diakses dan dikelola dari ponsel.

Yang membuatnya istimewa bukan sekadar tampilannya yang ringan. Setiap pengguna mendapat subdomain sendiri, misalnya namapengguna.mywapblog.com. Ada beberapa tema yang bisa dipilih, bisa menambah gambar langsung dari ponsel, dan yang paling penting, semuanya gratis. Tidak ada opsi layanan berbayar. Tidak ada batasan yang memaksa pengguna untuk merogoh kocek. Pengguna juga bisa mengubah judul blog, mengatur berapa banyak postingan yang tampil di halaman depan, dan beberapa pengaturan lain untuk menyesuaikan tampilan.

Saya ingat betul blog pertama saya dulu punya domain cinta-indonesia.indonesiaz.com. Saya mengisinya dengan puisi, cerpen, dan berbagai tulisan ringan yang biasanya merupakan tugas sekolah. Waktu itu tidak ada ambisi untuk menjadi penulis terkenal. Tidak ada target pembaca. Saya hanya ingin menulis sesuatu yang agak lebih panjang dari status Facebook, dan ingin agar tulisan itu bisa ditemukan oleh siapa saja, bukan hanya teman-teman di daftar kontak.

Yang menarik, Mywapblog bukan hanya populer di Indonesia. Platform ini sempat menjadi salah satu layanan blog seluler terbesar, dengan lebih dari 70 persen penggunanya berasal dari Indonesia. Penggunanya beragam, mulai dari remaja yang ingin menulis cerita, sampai teman-teman tunanetra yang memanfaatkannya untuk berbagi aplikasi, karya musik, dan berbagai informasi lain.

Selama bertahun-tahun, Mywapblog bertahan. Ia melewati masa-masa ketika BlackBerry masih berjaya, ketika Symbian masih menjadi sistem operasi yang banyak digunakan, dan ketika Android baru mulai muncul di pasaran. Platform ini bahkan sempat menyediakan subdomain tambahan khusus untuk pengguna Indonesia, seperti mwb-id.com dan indonesiaz.com.

Tapi pada akhirnya, semua yang dimulai harus berakhir.

Pada bulan Oktober 2016, Arvind Gupta mengumumkan bahwa Mywapblog akan ditutup. Tanggal 25 November 2016 ditetapkan sebagai hari terakhir layanan ini beroperasi. Dalam pesannya, Arvind menulis bahwa keputusan ini murni merupakan keputusan pribadinya. Tidak ada tekanan dari pihak luar. Ia mengatakan bahwa selama bertahun-tahun ia selalu menghadapi berbagai rintangan dalam menjalankan Mywapblog, tetapi selama itu pula ia tidak pernah berpikir untuk menutup layanan atau menjualnya. Namun, dalam satu tahun terakhir, situasi yang dihadapinya benar-benar menguras semangat, gairah, dan motivasi yang ia miliki. Pada akhirnya, semua usaha untuk mempertahankan layanan itu sia-sia.

Yang membuat saya menghargai keputusan ini adalah bagaimana Arvind mengelola penutupannya. Ia tidak sekadar mematikan server dan pergi begitu saja. Ia menyediakan alat migrasi konten ke Blogger dan WordPress. Ia mengaktifkan fitur URL forwarding agar tautan-tautan lama tetap bisa diarahkan ke blog baru. Ia bahkan mengembalikan biaya keanggotaan bagi pengguna premium yang sudah membayar. Semua itu dilakukan dengan satu tujuan sederhana: meminimalkan kekecewaan pengguna yang sudah bertahun-tahun mempercayakan tulisannya pada platform ini.

Pada tanggal 21 November 2016, Arvind menulis pesan perpisahan yang menyentuh. Ia mengatakan bahwa Mywapblog bertahan dan berkembang selama 8 tahun. Meskipun pesaing besarnya seperti Blogger dan WordPress jauh lebih besar, orang-orang tetap menyukai Mywapblog karena layanan ini berbeda. Karena ia mendengarkan penggunanya. Karena ia memecahkan masalah dengan caranya sendiri. Karena ia menyediakan dukungan yang tidak diberikan oleh platform gratis lain.

Saya tidak tahu apakah Arvind Gupta masih menulis blog sekarang. Saya juga tidak tahu apakah Mywapblog benar-benar dibuka kembali pada tahun 2020. Yang jelas, ada satu hal yang saya pelajari dari pengalaman ini.

Bahwa platform yang baik bukan hanya soal fitur. Bukan hanya soal jumlah pengguna. Bukan hanya soal seberapa cepat ia bisa diakses. Platform yang baik adalah platform yang peduli pada orang-orang yang memakainya. Platform yang menyediakan jalan keluar ketika harus berakhir. Platform yang pergi dengan cara yang terhormat.

Sekarang, ketika saya menulis di blog ini, saya sering teringat masa-masa ketika menulis dari HP adalah sebuah keterbatasan. Bukan kemewahan. Setiap kata harus diperjuangkan. Setiap paragraf harus dipikirkan. Karena ruang penyimpanan terbatas, karena koneksi internet lambat, karena keyboard kecil yang membuat salah ketik menjadi hal yang biasa.

Dan mungkin, justru karena keterbatasan itulah, menulis terasa lebih berharga.

Mywapblog sudah tidak ada. Tapi semangatnya masih hidup, setidaknya bagi saya, dan mungkin bagi ribuan orang lain yang pernah memulai perjalanan menulis mereka di sana.