Halo Dunia
Selamat datang.
Ini tulisan pertama di Rannndoms®. Sebuah ruang kecil yang saya bangun dari HP Android, di sela-sela waktu yang tidak selalu luang, untuk menuliskan hal-hal yang mungkin tidak penting tapi menurut saya layak untuk dibagikan.
Saya tidak tahu persis kenapa saya memulai ini. Mungkin karena bosan. Mungkin karena saya ingin menulis sesuatu yang lebih panjang dari cuitan tapi lebih pendek dari buku. Jangkauan di X bisa 35.000 kali lebih besar dari blog. Angka itu absurd, tapi mungkin justru karena itu saya memilih blog. Saya tidak ingin mengejar jangkauan. Saya ingin punya tempat yang benar-benar milik saya sendiri, tanpa algoritma yang menentukan apa yang orang lihat, tanpa notifikasi yang mengganggu, tanpa angka-angka yang membuat saya cemas.
Membangun blog ini sendiri sudah jadi pengalaman aneh. Saya melakukannya dari HP. Bukan laptop, bukan komputer. Hanya sebuah perangkat yang biasanya saya pakai untuk membalas pesan dan menonton video pendek. Di dalamnya saya menjalankan terminal, menulis file, mengatur konfigurasi, dan mendorong perubahan ke server yang entah di mana. Rasanya seperti menyulap. Di satu sisi, ini konyol, mengerjakan sesuatu yang biasanya butuh keyboard fisik dan layar lebar, tapi dilakukan dengan jempol di layar kecil. Di sisi lain, ini semacam pembebasan. Saya tidak perlu duduk di depan meja. Saya bisa menulis sambil berbaring, sambil menunggu, sambil di mana saja.
Sepanjang prosesnya, saya ditemani satu lagu yang saya putar berulang-ulang. Ini Abadi, dari Perunggu. Entah kenapa lagu itu cocok dengan suasana hati saya malam itu. Saya putar sekali, lalu sekali lagi, lalu saya berhenti menghitung. Kira-kira sudah 1.284 kali saya dengar lagu yang sama sampai akhirnya web ini jadi. Di sela-selanya, satu bungkus Djarum 76 Apel Royal menemani, habis entah kapan, tinggal puntung di asbak.
Saya pikir ada sesuatu yang menarik dari keterbatasan. Ketika alat yang kita punya sedikit, kita jadi lebih berhati-hati memilih kata. Tidak ada distraksi dari tab browser yang tak terbatas. Tidak ada notifikasi grup kerja. Tidak ada angka-angka yang terus bergerak. Hanya teks, satu baris demi satu baris, dengan kursor yang berkedip menunggu apa yang akan saya ketik selanjutnya.
Tapi mungkin saya terlalu serius. Ini cuma blog. Tidak ada yang menunggu tulisan ini. Tidak ada editor yang akan mengomentari. Tidak ada tenggat waktu. Kalau saya berhenti menulis besok, tidak ada yang akan kehilangan apa pun. Mungkin itu justru yang membuat saya nyaman. Tidak ada ekspektasi. Tidak ada beban. Hanya saya, kata-kata, lagu Ini Abadi yang terus berputar, dan asap yang pelan-pelan hilang di udara.
Saya rasa saya paham perasaan canggung setelah mempublikasikan tulisan. Perasaan ketika seseorang bertanya sedang apa, dan jawabannya hanya menulis, lalu tatapan itu berubah jadi oh, cuma main laptop. Tapi entah kenapa, di sini, di blog ini, saya tidak terlalu memikirkannya.
Saya tidak tahu blog ini akan jadi apa. Mungkin akan berisi catatan harian. Mungkin akan berisi esai pendek tentang hal-hal yang saya pikirkan. Mungkin akan berisi keluhan tentang hal-hal yang tidak penting. Mungkin saya akan berhenti menulis setelah tiga postingan dan membiarkan blog ini terbengkalai seperti banyak proyek lain yang pernah saya mulai.
Tapi untuk sekarang, saya menulis. Ini sudah lebih dari cukup.
Ada banyak alasan orang membuat blog. Untuk membangun personal branding. Untuk mencari klien. Untuk membagikan pengetahuan. Untuk mengasah kemampuan menulis. Untuk eksis. Untuk mendapat pengakuan. Alasan-alasan itu semua valid. Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar cocok dengan saya saat ini.
Saya hanya ingin menulis. Tanpa tujuan khusus. Tanpa target audiens. Tanpa rencana konten tiga bulan ke depan. Hanya menulis karena menulis itu menyenangkan, dan karena saya punya sesuatu yang ingin dikatakan, meskipun saya sendiri belum tahu persis apa.
Saya tidak anti media sosial. Saya masih punya akun di beberapa platform. Tapi ada sesuatu yang berbeda antara menulis di sana dan menulis di sini. Di sana, setiap kata diukur dengan engagement. Setiap kalimat dipertimbangkan berdasarkan potensi untuk dibagikan ulang. Di sini, tidak ada itu. Saya menulis karena ingin menulis. Titik.
Mungkin itu terdengar egois. Mungkin memang egois. Tapi menulis, pada dasarnya, selalu egois. Kita menulis karena kita ingin didengar, atau karena kita ingin mendengar diri sendiri. Kita menulis karena pikiran kita terlalu penuh dan kita perlu mengeluarkan sebagian. Kita menulis karena ada sesuatu di dalam yang perlu bentuk, dan kata-kata adalah bentuk yang paling mudah dijangkau.
Saya ingat dulu, waktu kecil, saya suka menulis di buku diary. Bukan karena ada yang menyuruh. Bukan karena saya ingin jadi penulis terkenal. Hanya karena menulis membuat saya tenang. Mengeluarkan isi kepala ke atas kertas membuat dunia terasa lebih rapi. Menulis jurnal tentang identitas diri selama dua minggu bisa mengurangi gejala depresi hingga dua bulan kemudian. Journaling juga sekarang jadi bagian dari self-care. Saya tidak pernah membaca ulang tulisan-tulisan diary saya dulu. Kadang saya bahkan lupa apa yang saya tulis. Tapi prosesnya sendiri sudah cukup.
Mungkin blog ini semacam itu. Sebuah buku diary yang dipajang di ruang publik, tapi tetap ditulis dengan cara yang sama, tanpa beban, tanpa target, tanpa harus ada yang membaca.
Tanda ® di nama blog ini juga tidak punya alasan yang serius. Bukan karena ini merek dagang. Bukan karena ada perusahaan di belakangnya. Hanya karena saya suka caranya terlihat di layar. Sebuah sentuhan kecil yang membuat nama biasa jadi terasa sedikit berbeda. Kadang hal-hal kecil seperti itu yang membuat sesuatu terasa milik kita.
Kata random juga tidak sepenuhnya tepat. Tulisan-tulisan di sini tidak sepenuhnya acak. Ada pola, meskipun tidak selalu terlihat. Ada kecenderungan untuk membahas hal-hal tertentu, meskipun tidak selalu konsisten. Mungkin lebih tepat disebut campuran atau beragam atau tidak terduga. Tapi random sudah cukup. Tidak perlu dipikirkan terlalu lama.
Kalau ada yang membaca ini, terima kasih. Kalau tidak ada yang membaca, tidak apa-apa juga. Tulisan ini tetap ada, tetap tersimpan di suatu tempat di internet, menunggu untuk ditemukan atau tidak ditemukan, sama-sama tidak masalah.
Saya tidak tahu apakah akan ada tulisan kedua, ketiga, atau keseratus. Saya tidak tahu apakah blog ini akan bertahan setahun, sebulan, atau cuma seminggu. Saya tidak tahu apakah saya akan tetap semangat menulis, atau bosan dan beralih ke hal lain seperti biasanya.
Yang jelas, untuk hari ini, saya sudah menulis. Dan itu sudah cukup.
Terima kasih sudah mampir. Sampai jumpa di tulisan berikutnya, atau tidak sama sekali.